Tekad Kenshusei untuk Menjadi Pengusaha

IMG_3739Kegiatan utama saya ke Jepang kali ini adalah dalam rangka Bunisness Matching dan diundang oleh pihak Karya Nusa Solusi (KNS), organisasi nir laba binaan Mahmudi Fukumoto, WNI mantan TKI yang sukses sebagai pengusaha di Jepang.

Business matching digelar atas dukungan Bank Indonesia Perwakilan Asia Timur. Dan di selenggarakan di Gedung Serbaguna Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT)  yang juga di support oleh KBRI Tokyo, BNI Cabang Tokyo, dan IPTI Jepang.

Dalam Business Matching ini yang merupakan aksi perintisan usaha yang dilakukan melalui kerjasama dengan para franchisor Indonesia, selain Kami dari Semerbakcoffee ada juga Simply Fresh Laundry.IMG_3736

Kami datang ke Tokyo untuk merancang kerjasama bisnis dengan para kenshusei (eks TKI di jepang) di Wilayah Tokyo dan sekitarnya. Jumlah mereka keseluruhannya berjumlah 200 orang.

Para kenshusei ini,  sangat bersemangan  untuk menjadi wirausahawan sekembali ke Indonesia kelak. Bekal mereka adalah dana tabungan yang mereka kumpulkan selama bekerja di Jepang, sekaligus pengalaman sebagai tenaga kerja di berbagai perusahaan, dengan nilai-nilai dan budaya kerja setempat yang terkenal disiplin, profesional, dan berstandar mutu jelas.

Acara business matching ini  dihadiri dan dibuka Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang,  Pak Yusron Ihza Mahendra.

Pak Dubes  dalam sambutannya menegaskan, nasib manusia di dunia tidak ada yang kebetulan, karena itu usaha keras harus dilakukan untuk mencapai sukses. Dubes Yusron menilai, bussines matching sangat membantu dan menginspirasi para kenshusei, yang di Jepang, keseluruhannya, kini berjumlah sekitar 16 ribu orang.

Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra

Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra

“Kegiatan ini bermanfaat untuk mempersiapkan diri menjadi wirausahawan,” kata Beliau. Dubes sangat mengapresiasi, karena dengan menjadi wirausahawan, para eks kenshusei, kelak akan menciptakan lapangan kerja di Indonesia. Bukan justru menjadi pencari kerja.

Pak Dubes juga mengingatkan, agar para kenshusei, ketika pulang ke Indonesia kelak tidak menjadi “Jamila” alias Jatuh Miskin Lagi.

Selain itu ada juga ,Ibu Detty – H. Agustono – Kepala Perwakilan BI Asia Timur di Tokyo menyampaikan perkembangan dan tantangan ekonomi Indonesia ke depan. Ia juga menjelaskan tantangan riil yaitu kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan berlangsung 2015 mendatang.

Dikatakan oleh Bu Detty, dengan MEA, alur barang dan jasa antar negara di wilayah ASEAN bebas tanpa ada hambatan. Karenanya, Indonesia diharapkan mampu menjadi produsen, bukan hanya pasar dan konsumen produk negara lain. Salah satu caranya adalah dengan menjadi pelaku bisnis yang mampu bersaing. Kalaupun menjadi tenaga kerja, harus mampu bersaing kualitas dengan tenaga kerja dari negara ASEAN lainnya. Detty menilai, pola usaha business matching sangat pas bagi eks kenshusei asal Indonesia.

Saya sangat banyak berharap, para kenshusei ini bisa memfaatkan hasil uang kerja keras mereka selama di jepang dengan baik dan benar, lebih produktif, dan sadar bahwa mereka tidak selama nya menjadi kenshusei.  Saya juga berdoa akan muncul banyak orang seperti mas Mahmudi Fukumoto di negara2 yang banyak  menggunakan jasa para kenshusei ini yang sangat perduli dengan nasib dan masa depan para kenshusei.

Semoga Pemerintah juga sadar bahwa ini semua adalah tanggung kita semua….

Semoga…..