Kuil Asakusa, peradaban lalu di tengah kota

bersama istri di gerbang kuil Asakusa

bersama istri di gerbang kuil Asakusa

Di balik aneka gedung modern di Tokyo, Jepang, ada sebuah kuil yang selalu ramai pengunjung dan wisatawan. Kuil Asakusa tak pernah berubah sejak beberapa ratus tahun silam. Para pengunjung termasuk saya dan istri menikmati suasana masa silam.

Alhamdulillah saya berkesempatan mengujungi kuil paling terkenal di Jepang ini tadi siang, Selasa  3 Nov 2014

Konon Kuil Asakusa menyimpan cerita menarik.

Alkisah sekitar abad ke tujuh Masehi, dua nelayan Desa Asakusa menemukan patung yang tersangkut jaring. Sesepuh desa menyebut itulah patung Kannon, Dewi Kemakmuran. Warga desa membuat bangunan untuk menyimpan patung tersebut dan lama kelamaan desa nelayan itu hidup makmur. Rumah tempat penyimpanan patung Kannon lambat laun menjadi kuil yang besar. Meskipun, patung Kannon sudah tidak lagi diperlihatkan kepada umum.

Di dalam kehidupan yang serba modern, rupanya tiap hari tetap ada ribuan orang Jepang datang ke kuil tertua di Negeri Sakura tersebut. Di tempat ini, tradisi terus dijaga dalam suasana kuil yang tetap tempo doeloe. Bangunan kuil dipertahankan sesuai aslinya.

Wisatawan yang datang ke Kuil Asakusa akan melewati beberapa bangunan dengan pintu-pintu yang sangat besar. Semua dipertahankan seperti aslinya, hanya ditambah lampion-lampion yang juga selaras dengan bangunan kuno di sekitarnnya. Sehingga memasuki Kuil Kannon di Asakusa, Tokyo, seolah memasuki lorong waktu menuju arus balik menuju Jepang di masa lalu.

Seperti kuil pada umumnya, di halaman bangunan utama juga disediakan pedupaan, yaitu tempat menyulut dupa dan semua pengunjung yang percaya akan berebut mengasapi diri untuk mendapatkan keberkahan.

Di halaman bagunan utama juga terdapat tempat melempar batangan kayu untuk mengetahui peruntungan. Pengunjung akan mengocok wadah yang berisi batangan kayu untuk mendapati salah satu batang kayu yang terlempar. Pengunjung lalu menuju sebuah lemari untuk mencari potongan kertas yang sesuai dengan angka pada batang kayu yang terlempar. Di kertas itulah konon ramalan nasib orang tersebut tertulis.

sayang saya tidak bisa memotret moment itu semua karena lupa charge batt camera..

Di Kuil Kannon orang juga diajarkan untuk menyadari kenyataan tentang adanya perbedaan. Persis di sebelah bangunan utama, terdapat sebuah bangunan megah dengan ornamen tali terikat di bagian atas pintu gerbang yang juga sangat megah. Bangunan dengan ciri seperti itu adalah tempat peribadatan bagi penganut Shinto, kepercayaan asli Jepang

Selain itu, saat kita berjalan memasuki area kuil, di samping kiri kanan kita berjejer toko-toko yang menjajakan berbagai macam pernak pernik barang untuk  oleh-oleh dengan harga yang menurut saya cukup lumayan mahal untuk sebuah oleh-oleh untuk ukuran orang Indonesia. Misalnya gantungan kunci  yang kecil saja hargamya paling murah 300 Yen atau sekitar Rp.35.000