Berkah Tradisi Syawalan di Pekalongan

Mengunjungi Krapyakan

Mengunjungi Krapyakan

Hari raya idul Fitri tahun 2013 ini, tepatnya tgl 15 Agustus 2013 kemarin saya menyempatkan untuk coba datang di perayaan Tradisi syawalan di daerah krapyak / jlamprang Pekalongan. Meski saya pernah tinggal di Pekalongan selama hampir 7 tahun, tapi memang terus terang, saya baru sekali mengunjungi Tradisi Syawalan di Pekalongan.Itupun sudah hampir 26 tahun yang lalu…

Dan memang, semua nya banyak yang sudah berubah….

Terus, Apa sih Tradisi Syawalan ? sehingga fenomenal sampai saat ini..? bahkan banyak warga Pekalongan yang mudik sengaja menunda balik ke kota masing-masing demi bisa menghadiri tradisi ini…

Tradisi Syawalan di adakan di daerah Krapyak yang di selenggarakan 1  minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Makanya juga sering di sebut KRAPYAKAN / LOPISAN di seleDi acara ini masyarakat yang berada di Pekalongan dan sekitarnya bisa menyaksikan pemotongan LOPIS RAKSASA yang mempunyai ukuran diameter kira-kira 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm.

Lopis raksasa

Lopis raksasa

Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.

Tapi memang sekarang sudah banyak yang berubah sesuai dengan perkembangan zaman

dan kondisi ekonomi masyarakat pekalongan itu sendiri. Acara Tradisi Syawalan saat ini

Anak saya pun cukup menikmati acara syawalan

Anak saya pun cukup menikmati acara syawalan

sudah di penuhi oleh para pedagang dadakan yang mencoba mengais rezeki dan berkah dari ribuan pengunjung yang berkunjung. Inilah berkah Tradisi Syawalan untuk warga sekitar jalan Krapyak dan Jlamprang.

Meski ini mungkin sudah banyak menghilangkan makna dari acara Syawalan itu sendiri. Banyak tamu atau pengunjung yang sudah enggan atau malu untuk untuk memasuki rumah-rumah di bilangan krapyak yang memang sebenarnya sudah di buat untuk open house bagi siapa saja.. baik yang kenal maupun yang tidak kenal.

Menurut informasi yang saya dapat, Tradisi Syawalan rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.

Tapi Upacara pemotongan lopis nya baru dimulai sejak tahun 1956 oleh bapak Rohmat, kepala desa daerah tersebut pada saat itu. Lopisan berasal dari kata lopis, yaitu sejenis makanan spesifik Krapyak yang bahan bakunya terdiri dari ketan, yang memiliki daya rekat luar biasa bila sudah direbus sampai masak benar

Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk bercerai berai kembali sebagaimana semula.

Mengapa tidak dibungkus dengan plastik atau bahan lain yang lebih praktis, sesuai dengan kecangihan masa kini ?

Ada Filofis yang sangat luar biasa kenapa Lopis ini tidak pernah di bungkus oleh plastik…

“Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet.”