Instrospeksi diri, renungan pribadi..

Menyalahkan orang lain

Menyalahkan orang lain

Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian di sekitar saya, baik di lingkungan rumah, di beberapa millis atau bisnis , banyak orang yang selalu mengagung agungkan diri nya sendiri. Merasa dirinya yang paling benar, orang lain lah yang salah, Tak mau menghargai pendapat orang lain, Pendapatnya lah yang paling benar.

Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.

Sifat ini ditandai dengan ketidaksiapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain; keengganan melakukan introspeksi (muhasabah); serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Padahal, kebaikan hanya bisa terwujud manakala seseorang bersikap rendah hati (tawadu); mau menyadari dan mengakui kekurangan diri; melakukan introspeksi; serta siap menerima kebenaran dari siapa pun dan dari mana pun.

Sikap seperti ini sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang selalu membaca istigfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran yang paling tinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, ia harus selalu melakukan introspeksi. Beliau bersabda,

“Wahai, manusia, bertobatlah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sebab, aku bertobat sehari semalam sebanyak seratus kali.” (HR Muslim).

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS Annajm [53]: 32).

Karena itu, Untuk saya pribadi, daripada mengarahkan telunjuk kepada orang, lebih baik Saya mengarahkan telunjuk kepada diri saya sendiri. Daripada sibuk melihat aib orang, alangkah nikmatnya kalau saya sibuk melihat aib saya sendiri.Bukankah Orang yang pandai adalah orang yang bisa memanfaatkan ilmunya untuk mengoreksi amal perbuatan diri sendiri, bukan orang yang suka mengoreksi amal perbuatan orang lain akan tetapi kesalahan serta kekurangannya tidak pernah dikoreksinya.

“Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib orang lain.”

 

Depok, 30 September 2011 – 01.20