Aku ingin menjadi Tangan Diatas..

Tangan diatas

Tangan diatas

Sombong, takabur, tamak, serakah, lupa diri, lupa agama, dan banyak sederet cap  jelek lain yang sering kita alamatkan  ke  orang-orang kaya yang kita lihat, padahal itu juga banyak melekat pada orang miskin atau pun setengah miskin. Banyak kan orang yang tidak kaya tapi sombong, berlaku selayaknya orang kaya…banyakkan pengusaha yang belum sukses tapi sudah lupa diri,lupa lingkungan bahkan lupa agama dan Tuhannya. Banyak juga orang yang miskin atau setengah miskin tapi serakah, takabur, bahkan lupa lupa agama dan Tuhannya.?

Gak sedikit juga orang kaya atau pengusaha sukses yang hidupnya suksesmulia, seperti ajaran guru saya, pak Jamilazzaini, bahwa seharusnya kesuksesan itu diiringi juga oleh kemuliaan untuk membantu sesama. Tapi gak sedikit juga orang kaya dan pengusaha Sukses malah bikin susah orang banyak, bahkan jadi benalu bangsa kita sendiri.

Sepertinya gak ada bedanya ya jadi kaya atau jadi miskin..??

Akhlak mulia itu tidak ada kaitannya dengan kekayaan. Orang miskin bisa berakhlak mulia demikian halnya dengan orang kaya. Siapa yang tidak kenal Abdurrahman bin Auf, salah satu diantara 10 sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga. Beliau adalah salah satu pengusaha terkaya di zamannya. Pengusaha paling sukses di zamannya. Ternyata beliau berakhlak sangat mulia. Sedekahnya tidak tanggung-tanggung sekali sedekah mencapai 4000 dinar. Anda tahu berapa 1 dinar? 1 dinar = 4.25 gram emas 22 karat atau setara dengan Rp 1.500.000 jika dirupiahkan dengan rate emas saat ini. Padahal beliau dalam setahun tidak hanya sedekah sekali dua kali tapi bisa berkali-kali.

Buat saya, kaya adalah keharusan..

Banyak jalan menuju roma, begitu juga untuk kaya.. gak harus jadi pengusaha, tapi bisa juga dari profesi yang lain. Tapi buat saya pribadi, Jadi pengusaha adalah pilihan utama….

Karena Diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harbi dalam Gharib Al-Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.”

Jadi pengusaha juga gak perlu IP tinggi, gak perlu kaya.semua orang bisa jadi pengusaha dengan berbagai latar belakang apapun. Dan dengan menjadi pengusaha, saya bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain dll. Artinya hidup saya sudah bisa berguna untuk orang lain. Bukankah sebaik baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk orang lain..?

Berikut adalah 4 alasan kenapa saya harus kaya :

1. Saya ingin bersedekah lebih banyak lagi, salah satunya dengan memberikan lapangan kerja baru. Ada sebuah efek domino ketika kita menjadi kaya. Harta yang berlimpah otomatis diimbangi dengan zakat dan infaq yang lebih. Belum lagi pajak. Semuanya itu untuk kemaslahatan orang banyak.

2. Saya ingin meneladani Rasulullah SAW, beliau adalah seorang entrepreneur sejati yang sangat sukses. Bahkan masih segar dalam ingatan kita ketika beliau meminang Khadijah dengan mas kawin 100 ekor onta muda. Saat itu usia beliau baru 25 th. Harga onta sekitar 20 jt/ekor. Wow, mas kawin senilai 2 milyar! Masih adakah saat ini pemuda 25 th yang memberikan mas kawin sebesar itu? Saya berdoa akan ada nantinya. Jika kita ingin meneladani beliau jangan tanggung-tanggung. Semua aspek kehidupannya kita tiru termasuk kepiawaian beliau dalam berbisnis. Bukankah 9 di antara 10 pintu rezeki itu adalah berdagang / berniaga…?

3. Saya ingin menjadi tuan di rumah sendiri dengan membuka lapangan kerja sebanyak mungkin, karena sudah terlalu lama ummat islam dan negeri ini dilecehkan oleh bangsa lain. Ternyata faktor utama dalam permasalahan itu adalah ekonomi. Memang benar jika ada yang mengatakan Money is not everything but almost everything needs money. Ingin pinter, sekolah, butuh duit. Ingin sehat, makan sehat, olahraga, ke RS/dokter, juga butuh duit. Ingin aman dari gangguan negeri jiran, militer diperkuat, lagi-lagi butuh duit. Sudah terlalu lama negeri ini bergantung dari bantuan negara lain yang ujung-ujungnya utang dan utang. Padahal potensi SDM dan SDA Indonesia begitu dahsyat. Seharusnya negara lain yang bergantung pada kita. Seharusnya kita jadi tuan di rumah sendiri dan mengambil alih kekuasaan asing. Cobalah untuk tidak bercita-cita menjadi pegawai dan bekerja di suatu perusahaan sebesar apa pun. Cobalah untuk memiliki impian besar menjadi owner perusahaan raksasa dunia walaupun untuk itu kita harus mau menerima kenyataan pahit dilecehkan dan dihina orang. Memang impian itu hak semua orang tapi nyatanya tidak semua orang berani merumuskan impiannya dengan jelas. Takut dicibir dan direndahkan adalah salah satu faktornya. Toh para tokoh sukses dunia juga awalnya dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi mereka tetap berlari, keep moving forward. Bahkan Nicholas Copernicus harus dihukum mati oleh pihak geraja demi membela keyakinan ilmiahnya. Cuek saja kalau ada orang mencibir impian kita, toh mereka tidak membahayakan kita dan mereka juga tidak pernah bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. So What?

4. Saya ingin memiliki lebih banyak waktu luang untuk ibadah, keluarga, dan hobi. Banyak orang memiliki freedom of financial tapi mereka malah tidak sempat menyapa anak-anaknya di rumah. Akibatnya anak kurang perhatian yang ujung-ujungnya pergaulan bebas, narkoba, gengster. Banyak yang mengaku sudah freedom of financial tapi ternyata belum freedom of time. Dengan menjadi entrepreneur saya berharap memiliki waktu luang lebih banyak untuk beribadah, bermain dengan anak- istri, dan memuaskan hobi saya. Waktu itu jauh lebih mahal daripada berlian sebesar gunung, dia tidak bisa kembali. Kita baru menyesal ketika tiba-tiba anak-anak kita sudah besar dan segera menikah. Koq rasanya kita tidak pernah di sampingnya membacakan dongeng untuknya tiba-tiba dia sudah diambil orang. Freedom of financial dan freedom of time itu penting.

Empat alasan itulah yang selalu saya camkan dalam-dalam pada impian saya. Kenapa saya harus kaya. Sebenarnya masih banyak alasan-alasan lain yang bisa ditambahkan tapi yang di atas adalah yang paling utama bagi saya.

Saya ingin selalu menjadi Tangan Diatas, yang selalu  memberi untuk keluarga, tetangga dan semua orang..ingin berguna untuk semua orang..

Bahkan saya menulis keempatnya dalam secarik kertas dan saya tempelkan di kaca lemari pakaian saya. Sewaktu-waktu lupa, saya bisa melihatnya sehingga saya memiliki alasan yang kuat kenapa saya harus kaya.

Jangan anggap remeh menuliskan impian atau target hidup Anda. Karena itu akan berdampak signifikan pada berhasil tidaknya Anda meraihnya. Dan saya yakin Anda pasti juga memiliki alasan kuat kenapa Anda harus kaya

Semoga semua bisa terwujud….

Tetap Semangat Tetap Istiqomah. Luruskan niat Sempurnakan Ikhtiar

Depok, 7 September 2011 – 8.20