Siapa bilang bisnis kopi itu susah..

Coffee Stall

Coffee Stall

Melihat banyaknya iklan Produk kopi di TV akhir-akhir ini,membuat saya tersenyum bangga… ya saya bangga karena sudah menjadi bagian dalam Bisnis ini, meski mungkin belum termasuk sebagai pemain besar. Tapi paling tidak, produk-produk saya ikut dan akan ikut terus meramaikan bisnis si “hitam manis” ini. Baik itu Semerbakcoffee , Kopi Jahe Jagoataupun produk baru saya, Susu Jahe Jago. Dan saya semakin yakin, inilah “Hidup” Saya…

Apalagi setelah beberapa hari lalu, saat saya dan Muadzin berkunjung ke Bandung, saya dipertemukan oleh salah satu pejabat di Dinas Perkebunan Jawa Barat, yang sanggup menjadi fasilitator bagi kami untuk ikut berbagai pameran di luar negeri, asalkan……kami menggunakan produk kopi yang berasal dari Jawa Barat. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi bahwa Kopi selalu menjadi “Primadona” dalam setiap pameran di Luar Negeri.

Dari situlah, kami bertambah semangat dan seakan mendapatkan darah segar untuk terus mengembangkan bisnis kopi ini….

Mungkin banyak orang bilang, kalau bisnis kopi itu sulit…karena banyak hal yang harus di dalami dan di pelajari. Bahkan tidak sedikit, orang yang khusus berguru atau belajar mengenai kopi, misalnya ke the Danes Gourmet Coffee Institute (DGCI) di Australia, dll.

Buat saya itu bukan halangan atau kendala yang berarti, karena saya bisa memulai bisnis kopi dari hal yang paling sederhana,salah satu nya adalah mengelola SemerbakCoffee  dan Kopi Jahe Jago. Dan saya banyak belajar dari sini mengenai seluk beluk bisnis kopi.

Ada satu cerita, Herb Hyman, penduduk asli kota Los Angeles cukup berdebar manakala warung kopinya harus berhadapan dengan raksasa Starbucks yang membuka gerai hanya  bebarapa meter dari tokonya. Namun seiring waktu kekhawatirannya tidak menyebabkan warung kopinya tutup usaha, malah mendapatkan berkah dari kehadiran perusahaan kopi multinasional ini. Keuntungan paling nyata adalah peningkatan jumlah pelanggan yang juga merupakan tamu setia Starbucks. “Don’t fear Starbucks”, demikian inti dari Kasus bisnis ini yang bisa kita baca di Slate, sebuah majalah terkemuka di Amerika.

Jadi “Jangan pernah ingin menjadi Starbucks” jangankan menjadi, menyerupai saja jangan…!!.  Starbucks memang terlahir untuk menjadi Starbucks dengan segala kodrat dan takdirnya…Setiap warung kopi sekecil apapun, pasti punya keunikan tersendiri yang nantinya pasti akan melahirkan pelanggan-pelanggan setia nya, tanpa perduli status dari si pelanggan tersebut. Buktinya seberapa banyak warung kopi  mati sejak adanya starbucks di beberapa daerah di Indonesia..??? Nggak ada kan..Jadi konsentrasi saja untuk mempertahankan keunikan itu..jangan takut bersaing..

Masyarakat Indonesia memang terkenal Latah, tidak bisa lihat suatu bisnis bagus semua langsung ikut “nyebur”. Itu pula yang di alami oleh SemerbakCoffee. Banyak follower nya yang ikut “nyebur” di bisnis coffee booth, begitu melihat SemerbakCoffee booming..    Tapi apa enaknya kalau cuman sekedar ikut-ikutan..? tidak punya konsep yang jelas..dan yang parah lagi, banyak follower SemerbakCoffee itu sebenarnya adalah “Broker”, yang membeli produk jadi itu dari pihak lain. Tapi yah begitulah….”yang penting gue bisnis” mungkin itulah yang ada dalam otak dan hatinya..

Jadi sebenarnya bisnsi kopi itu mudah kok…asalkan kita punya konsep sendiri, punya keunikan dan jangan pernah meniru 100% Produk orang lain…kalau  ATM ( Amati Tiru Modifikasi ) bolehlah….

Trus, kalau ada yang bilang, apa SemerbakCoffee juga tidak meniru Starbucks..?  Saya pasti jawab, ooooh pasti bedalah….lihat saja konsepnya lihat aja investasinya ( ha..ha..ha..ha…) ya kan..??

Depok, 25 Agustus 2011 – 08.35